Kamis, 09 Juni 2011

Merindu Sang Adam [masih]

‎:
matahari telah merekah,
ingin rasanya kurangkai pada sekotak mimpi
yang kau rajut pada kenang-kenang kita
namun masih menyimpan sepotong kekosongan
......
sebab sadar kamu [masih] tidak denganku.
Selamat siang, kamu !

Lelucon Hidup

Terlempar di antara harapan dan kekecewaan
oh, aku tahu sepertinya hidup mengajakku untuk ber-main tebakakan.
dengan senang hati kuulurkan tanganku
sebab kesempatan adalah kado terindah dari Yang Maha Pemurah,
demikian, aku percaya datangnya pasti berkali.
...

Memeluk Moksa

 
Sebenarnya kamu hanya butuh keberanian untuk mengikuti kata hatimu. Mengikuti kata hati itu luar biasa. Sangat luar biasa [reaksinya]. Bahkan bisa mengubah apa saja dalam isi dunia. Serupa cinta Juliet kepada Romeo. Cinta untuk melepaskan. Cinta untuk pengorbanan. Cinta untuk selamanya. Cinta untuk lepas dari samsara kemudian memeluk moksa.

Selamat pagi "yang sedang menikmati cinta" ! ^^

Pekat [!]

...dan malam ini tidak ada kalimat yang terlahir dari rahim kata. Bahkan kupastikan ini sampai nanti, sampai pada pertemuan kita. Sebab terlalu prematur jika kutulis di sini kekasih.
Seperti halnya malam, hatiku kian memekat lantaran detak jarum waktu. Menunggu kamu dan sang cahaya pagi kembali. Kamu tetap kekasihku, meskipun.

*padamu hati, aku tidak bermaksud memecahkan [sungguh].

Sebab itu...

 
Kamu datang dengan sebuah sebab dan pergi pun karena sebuah sebab [yang tepat]. Tuhan memang adil, selalu saja ada pesan dalam tiap kejadian. Terima kasih telah menjadi bagian dari ceritaku ! ^_^

Potongan yang Tertinggal

Berziarah ke masa lalu. Menemukan saat dengan kamu. Ternyata tidak hanya ketika senda namun sendu pun kamu denganku. Akhirnya, aku belajar mencintai dengan ketulusan hati darimu.

Lengkung sungging, Sabit di Langit

memandang sabit di langit, lengkung sungging ratap ngilu
serentak luruh senyap menyesap,
mengenang labuh senja hari ini:tak seindah patutnya,
oleh sombong hati membuka suara
dan 'kamu' pun.

Mozaik kisah lama

Tetap saja ada yang tertinggal sejak aku memutuskan pergi. Dan, yang tertinggal itu adalah rasa cintaku padamu. Aku yakin, kamu merasakannya meski kamu berusaha menutupinya.

Merindukan Sang Adam

Tidak akan terpisahkan. Aku dan kamu. Kita. Tidak oleh dia. Tidak oleh kalian. Tidak oleh apapun. Kecuali takdir. 
Semua ada sebabnya, melalui tetes hujan kau hadirkan ingatanku tentang kamu, seikat cahaya senja yang selalu kukirimkan padamu, partikel udara yang kuhela menyiratkan wangi tubuhmu.Dan bumi yang kupijak pun turut. Masih.

*rindu ini masih. Meski, jarak dua jengkal darimu AFM.

Senin, 06 Juni 2011

# Celah

‎[dulu] ketika aku mencintaimu dan mencari celah memilikimu aku selalu yakin aku perlu belajar menerima kehilanganmu [nanti].Namun, sampai sekarang aku tidak pernah berhasil menemukan cara untuk mengikhlaskan kepergianmu.

#Darl...

Lalu, masih kepadamu bermuara, meski telah jauh aku mendayung...lalu, masih kepadamu kukirimkan seikat senja lengkap dengan angin semilir dan wanginya...lalu, masih kepadamu kupaketkan setoples kunang-kunang demi terang malammu...lalu, masih kepadamu kutulis rindu...lalu, masih untukmu aku pesankan senja rasa pastel. Lalu, masih denganmu aku mencintai, Darl.^^

# The Choice

Kamu membutakan mata, menulikan telinga, dan mematikan rasa terhadap segalanya mengenaiku setelah aku memilih pergi. Dan aku paham, ini adalah bagian dari rencanamu untuk memilih bahagiamu sendiri. Meskipun aku tidak yakin, kamu benar-benar buta, tuli, dan mati rasa. Sebab kamu berhak bahagia tanpaku, maka aku tidak mengusikmu. ADIL. *berusaha ikhlas.

# Potongan kisah lama

Tetap saja ada yang tertinggal sejak aku memutuskan pergi. Dan, yang tertinggal itu adalah rasa cintaku padamu. Aku yakin, kamu merasakannya meski kamu berusaha menutupinya.
Kamu saya ibaratkan sebuah buku, akan tetapi saya sepenuhnya sadar, saya tidak bisa sesuka hati mengisinya dengan warna favorit saya. Dan, ini adalah cara saya untuk berlaku adil terhadap hubungan kita.

Tanya [?]

Harus terpisah dari orang yang dicintai, tidak mengharuskan rasa cinta ini berkurang. Justru, aku merasakan jatuh cinta lagi. Lagi dan lagi. Lalu hati ini berkata, "Bagaimana bisa kamu begitu jauh memasuki hatiku dan berdiam lama di sana?"

Ada setan yang menetas di tubuh kamu

Aku. Bagaimana kamu lebih tahu aku ketimbang aku? Hei...! *heran
Kamu,terus saja menyengsarakan orang banyak, menzalimi khalayak, mempersulit kaummu, anggap saja kamu tengah menabung hal yang serupa untuk kamu, anak, dan cucu kamu kelak.
Kamu yang terlampau banyak mengada-ada. Terlampau bersemangat berasumsi. Gemar melebih-lebihkan.Adalah kamu yang tidak punya pekerjaan. Adalah kamu yang telah memesan tempat di neraka. Adalah kamu yang bersekutu dengan setan.
Selamat ! ^^

#Mari menertawai diri sendiri

Akan lebih bijak, jika dalam beberapa hal kamu [Riani Kasih] mulai dari diri sendiri sebelum kamu menghubungkannya dengan orang lain. Seperti, mencintai diri sendiri, peduli dengan diri sendiri, memahami diri sendiri,menasehati diri sendiri dan yang terpenting adalah menertawai diri sendiri.

# Berkaca diri

Alangkah bijaksana, kamu diam saja ketimbang bersuara dengan segala asumsi yang pada akhirnya membuat orang yang medengar merasa tidak nyaman.
Pada kalanya, diam itu serupa emas.

Di Galaksi bersama Adam

Di luar, gerimis telah bermutasi menjadi hujan. Di sini aku sibuk bercengkrama dengannya via telepon, penggal demi penggal kata-katanya menyesap selembut serat kapas masuk ke dalam pendengaran. Sekali kukatakan padanya, "Beruntung, aku sempat mengirim seikat senja tadi sore padamu. Sebab langit akhir-akhir ini cengeng." Lalu terdengar tawanya di seberang sana. "Dasar penyair. Kamu, selalu membuatku jatuh cinta." Balasnya. AKu berdehem, "Maaf aku bukan penyair, berapa kali harus kukatakan padamu hati-hati kalau bicara?"

#Justwrite 9

Dan, dulu kamu telah memilih bahagia tanpa saya meski alasannya entah. Pada kurun waktu tertentu, saya lewati sedih saya sendiri, sakit saya sendiri, mencoba berdiri tegak, dan menepis tiap anggapan sendiri. Tidak denganmu, tidak dengannya, tidak dengan siapa pun. Lalu, sekarang kamu datang kembali mengulurkan tanganmu ke arah saya, lalu berkata "Maukah kamu besertaku, lagi?" Hal pertama yang pantas saya lakukan adalah tersenyum. Kedua, dengan penuh keyakinan menggelengkan kepala. Ketiga, saya akan menjawab "sekali berarti setelah itu tak berarti."


Sabtu, 04 Juni 2011

#Draf Novel

Saya tahu, kamu baik. Saya tahu, baik pun belum tentu tepat. Saya tahu, yang baik layak dapat yang terbaik. Saya tahu, banyak cara untuk kamu menemukan bahagia dan itu bukan melalui saya. Saya tahu, saya menyesal telah menyakitimu dengan mencintaimu. Saya tahu, kamu pernah saya cintai dengan segenap hati dan masih saya cintai dengan segenap hati pula, sampai saat ini. Saya tahu, setiap rindu saya sepakat menemui kamu. Saya tahu, doa saya pun bersekongkol berlari ke arahmu.  Saya tahu, meskipun kamu bukan yang saya pilih, bukan berarti saya tidak mencintaimu. Tapi, saya tahu, saya punya cara sendiri mencintai kamu. Cukup saya yang tahu, tidak dia, tidak juga kamu. Dan, saya tahu kamu masih mencintai saya meski berusahaa menutupinya. Saya tahu, saya harusnya berlaku adil dengan membiarkan kamu menemukan bahagia bersama yang lain. Namun, saya tahu hati saya tidak terima. (RK)

#Female Alien Love

|Your from a whole other world, a different dimension. You open my eyes, and i’m ready to go, lead me into the light. Every move is magic. Because u'are an a Alien.

*my boyfriend an Alien

#Justwrite 8

|Jika malam, doaku menjelma menjadi kunang-kunang. Sengaja kupinta menemuimu. Banyaknya tak terbilang. Sebab itu, jangan tanya kenapa ada kunang-kunang mengelilingmu,tidak pula kamu tengah bermimpi atau mengalami cenat-cenut. Percayalah itu ada dan mereka sepakat beranjak menemui kamu. Selamat malam, Kekasih !

#Justwrite 8

Kamu menjelaskan dua sisi kepada saya. Pertama, kamu adalah teman. Kedua, kamu adalah kekasih terbaik. Dua sisi yang seimbang karena saya tidak pernah tahu sisi mana yang lebih banyak. Kamu tahu, saya menikmatinya dan sangat menghargainya. Terima kasih, telah mengajarkan saya banyak hal, kekasih.

#Draf Novel

Lengkung sabit di langit menyunggingkan senyum. Suara jangkrik mengerik. Dari kejauhan suara burung hutan sesekali terdengar samar. Cahaya dari pijar lampu minyak rumah penduduk setempat membentuk titik. Di atas gertak dengan tiang belian menancap kokoh ke dasar danau Landu dan Dara berdiri menghadap danau. Keduanya membiarkan keheningan menyelimuti sejenak.
"Kamu, ingin menari denganku?" Landu berbisik memecahkan keheningan. Ia menatap permukaan danau yang beriak pelan.
"Menari? Berdansa, maksudnya?" Dara bingung. Ia mengalihkan pandangannya ke Landu meminta jawaban. Landu mash menatap ke arah danau.
"Iya, sejenis berdansa." Landu menjawab. Kali ini ia memalingkan wajahnya ke arah Dara. Wangi cokelat menyapu penciumannya. Landu kenal wangi ini. Aroma parfum Dara.
"Sejenis berdansa. Terdengar aneh. Tapi kita tidak punya musiknya." Dara membenarkan letak poninya yang nyaris berantakan tersentuh angin.
"Tidak perlu musik. Bagiku kamu lebih dari sekadar musik." Landu meraih tangan Dara dan meletakkannya di dadanya. Lalu ia berkata, "Dan lagunya ada di sini. Coba kamu dengar." Landu mengubah posisi berdirinya dan menghadap Dara.
Dara diam sejenak. Ia ragu, harus memulainya. Menyadari Dara kikuk, Landu menarik kepala Dara pelan. Dara tersentak. Lalu ia menempelkan telinganya ke dada Landu. Wangi tubuh Landu senada debaran di dalam sana. Lembut dan mendamaikan.
Rasanya dunia stagnan dalam hitungan sesaat. Jika Dara boleh memilih mengabadikan momen terindah, maka tanpa pertimbangan apapun akan ia abadikan momen ini.
"Lagu ini adalah lagu terindah yang pernah aku dengar sepanjang hidupku." Dara berbisik. Landu mendengar jelas. Ia tersenyum.
Landu meraih tangan kiri Dara, menggengamnya lalu merentangkannya. Landu menempatkan posisi kakinya di samping kaki Dara. Kepala Dara masih menempel di dada Landu. Landu merasakan wangi rambut Dara. Lembut.  Landu menempatkan tangan kirinya di pundak Dara. Lalu tangan kanannya memeluk pinggang Dara. Ia menggoyangkan pelan badannya ke kiri lalu ke kanan. Dara memilih menurut. Ia benar-benar larut dalam pesona Landu. Ia sadar ini telah berlangsung dari pertama ia bertemu Landu beberapa minggu yang lalu.

#Justwrite 7

Sibuk menata topik apa yang sebaiknya dibicarakan padamu. Soal langit hari ini. Apa yang istimewa? Matahari yang memancarkan panas luar biasa. Bulan yang di lukis separuh.Atau bintang yang sok seksi berkedip-kedip di langit. Masih saj kita tidak bisa membahas takdir ini bersama, sebab jarak masih egois.
Yang aku butuhkan hanyalah bersamamu untuk meretakkan rindu yang telah membatu.

#Justwrite 7

Meskipun kamu tidak bisa saya miliki, bukan berati saya tidak mencintai kamu. Tapi, saya punya cara saya sendiri untuk mencintai kamu. Dan cukup saya yang tahu. Tidak juga kamu. Tidak juga kau...(RK)

#Festival Topeng



Di sini. Di tanah ini. Tiga hari jika kamu menghitung juga perhatikan. Aneh. Orang-orang berkepentingan sibuk membeli topeng. Topeng yang beragam rupanya. Anehnya lagi. Setelah dipasang, jika kamu memerhatikannya sekilas topeng-topeng itu amat menyerupai pemakainya meski jika kamu perhatikan lekat-lekat karakternya mendadak tak serupa. 
Paling laris, topeng yang menggurat senyum. Sepenilaianku topeng itu menggurat senyuman basa-basi. Mereka membelinya di sepanjang jalanan ini, lho. Hanya di sepanjang jalan ini.
Masih orang yang sama pula -orang yang memakai topeng- sibuk merundingkan sesuatu yang entah. Lalu ada juga mereka yang menambal sulam jalan, mengecat gapura. Ada pula mereka yang sibuk mendekor ruangan, merazia lapak-lapak yang [telah menahun berada] sepanjang jalan ini. Perlu kuterangkan, hanya di sepanjang jalan ini. Tidak untuk jalanan setapak lainnya. Ringkikkan pasukan keamanan terdengar hilir mudik di jalanan. Ada yang menunggang kuda, ada yang mengendarai kereta. Derapnya mengisyratkan, penghalang jalan segera memilih menepi.


Jika kamu lewati, pendopo kebesaran. Rupanya, bendera kebesaran pun telah membelit pagarnya. Megah dan indah.
Lalu, ada Seseorang yang berani berbisik padaku [bukan salah satu dari mereka]. Rupanya Ia pun turut memerhatikan. Ia bertanya gerangan apa ini? Dan, kujawab dengan berani dan berbisik pula, "Ada festival topeng yang dihadiri kelurga dari Istana." Ia yang bertanya, terlihat manggut-manggut.


/RK/ @ Kantin Q-Ta, FKIP Untan

#Justwrite 5

Senja yang sama. Jarak yang sama. Rindu yang sama. Pada orang sama.

* like vanilla twilight ^^

#Justwrite 4

‎|Dan, dulu kamu telah memilih bahagia tanpa saya meski alasannya entah. Pada kurun waktu tertentu, saya lewati sedih saya sendiri, sakit saya sendiri, mencoba berdiri tegak, dan menepis tiap anggapan sendiri. Tidak denganmu, tidak dengannya, tidak dengan siapa pun. Lalu, sekarang kamu datang kembali mengulurkan tanganmu ke arah saya, lalu berkata "Maukah kamu besertaku, lagi?" Bagaimana saya harus menjawabnya. Entahlah.

#Justwrite 3

Padamu, Kekasihku. Yang pernah aku cintai dengan segenap hati dan masih aku cintai dengan segenap hati, aku katakan: rindu.

*melankolis of rain ^^

#Justwrite 2

Menyapu jejak malam. Berdebu dan usang. Panas nan gersang. Rindu menjalar sendi. Air mata tersembunyi, urung menghapus luka yang tersimpan. Mari, ajarkan aku berdamai pada jiwaku seorang. Selamat malam, malam !
(RK)

#Justwrite 1

‎|Akan lebih bijak, jika dalam beberapa hal kamu [Riani Kasih] mulai dari diri sendiri sebelum kamu menghubungkannya dengan orang lain. Seperti, mencintai diri sendiri, peduli dengan diri sendiri, memahami diri sendiri,menasehati diri sendiri dan yang terpenting adalah menertawai diri sendiri.

Rabu, 19 Januari 2011

Unfaithful -Rihanna-



Story of my life, searching for the right
But it keeps avoiding me
Sorrow in my soul 'cause it seems that wrong
Really loves my company

He's more than a man and this is more than love

The reason that the sky is blue
But clouds are rolling in because I'm gone again
And to him I just can't be true

And I know that he knows I'm unfaithful

And it kills him inside
To know that I am happy with some other guy
I can see him dying

I don't wanna do this anymore

I don't wanna be the reason why
Every time I walk out the door
I see him die a little more inside

I don't wanna hurt him anymore

I don't wanna take away his life
I don't wanna be a murderer

I feel it in the air as I'm doing my hair

Preparing for another date
A kiss up on my cheek, he's here reluctantly
As if I'm gonna be out late

I say I won't be long just hanging with the girls

A lie I didn't have to tell
Because we both know where I'm about to go
And we know it very well

'Cause I know that he knows I'm unfaithful

And it kills him inside
To know that I am happy with some other guy
I can see him dying

I don't wanna do this anymore

I don't wanna be the reason why
Every time I walk out the door
I see him die a little more inside

I don't wanna hurt him anymore

I don't wanna take away his life
I don't wanna be a murderer

Our love, his trust

I might as well take a gun
And put it to his head
Get it over with
I don't wanna do this
Anymore, anymore

And I don't wanna do this anymore

I don't wanna be the reason why
And every time I walk out the door
I see him die a little more inside

And I don't wanna hurt him anymore

I don't wanna take away his life
I don't wanna be a murderer
A murderer, no no no
Yeah

Minggu, 16 Januari 2011

menjadi 'sesorang'


Saya -yang dulu adalah selembar kertas putih- mengucapkan terima kasih kepada:
1
Yang Esa.
2
mamakku (doanya) bapakku (uangnya) adikku (tenaganya).
3
kepada kekasihku -masih anonim- (doa dan bantuannya adalah semangatku).
4
the jamurer's Fitriani Bulovee , Mardian Deeza Sagiant, dan -Utin Erliana-  (pelengkap kebahagiaannya).
5
Sesilia Seli (penyemangat).
6
semua F111060 lainnya.
7
apapun yang disebut "penyemangat".

*kini menjadi 'seseorang' yang telah diwarnai oleh kalian*

^0^
betang, 17 Januari 2010
(satu di antara hari bersejarah pada kisahku)

Jumat, 14 Januari 2011

plan the child's name (crazy think)


HENING SEMESTA (a girl) and BANYU BENING (a boy)

Hopefully, i can give color to your life (H)

.....winter in my heart....

Kekasih, aku hanya ingin mengabarkan kepadamu bahwasannya aku memeluk musim dingin bila di sampingmu ! Selalu ! ini cara tubuhku merespon keberadaanmu. Ini benar !:)

Isi Bola Kaca di Lemari Kaca

1.   Lelakiku Bernama Titik-titik
2.   Paris untuk Paris
3.   Kopang
4.   Basa-Basi Kloset
5.   Bola Kaca di Lemari Kaca
6.   Senyawa
7.   Kutemukan Kamu di Lamban Pesagi
8.   Saya Memiliki Zombie Seekor Binatang yang Bukan Binatang
9.   Desah di Balik Celah
10.    Gugur Maple di Willamette Park

"KARANGAN" RIANI KASIH

Apapun- semua. Diproduksi oleh komponen 'otak yang terkontaminasi oleh jamur-jamur'. Jamur-jamur yang memfermentasikan setiap partikel kata yang membentuk kalimat, tema, tokoh, setting, alur, sudut pandang, kemudian melahirkan rasa damai yang tak memuai, kelam yang kian kemayam, derak-derak yang menyesak, hingar yang mem-bingar, terang yang menggerayang tak kunjung pulang.

"Semua 'karangan' untuk jamur-jamur yang beranak-pinak dalam kotak benak."

"KUTIPAN"

Jika kamu mau satu, jangan ambil dua. Sebab satu menggenapkan sedang dua mengganjilkan"


Dan aku percaya, pepatah bukan sekadar kembang gula susastra. Diperlukan pegalaman pahit untuk memformulasikan. Diperlukan orang yang setengah mati berakit-rakit ke hulu agar tahu nikmatnya berenang di tepian. Diperlukan orang yang jatuh dulu kemudian ditimpa tangga. Diperlukan sebelanga susu hanya untuk dirusak nila setitik.

"Seindah apapun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? dapatkan ia dimengerti jika tak ada spasi?"

"Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak. Dan saling menyayang jika ada ruang. Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tidak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu."

"Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tidak dibagi. Darah mengalir deras dengan jantung yang tidak dipakai dua kali. Jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah. Jadi jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayag."

"Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring bukan digiring."

-Dee, dalam Filosofi Kopi-

TOPENG KASIH

"cuma minta hakku sebagai kekasihmu, itu saja"


"tak bermaksud mengaturmu, menerormu dengan perhatianku yang berlebihan mungkin buatmu..aku cuma kamu tahu kalau ladang cintaku yang telah kamu taburi benih kasihmu telah kering dan kerontang"


"aku tahu kamu sibuk dengan pekerjaanmu, aku tahu itu duniamu, aku tahu itu kebutuhanmu, kamu memang begitu, tapi kamu juga harus tahu, aku terluka oleh tahuku tentangmu itu"
"berniat untuk mengakhiri ini, selalu ada dibenakku, berusaha untuk tak memperdulikanmu, juga semua tentangmu"
"dan selamatlah, kubunuh hati kembarku, kupatahkan topengku"
"retaklah topeng kasih"
"tak mau berpura-pura, seakan semuanya baik-baik saja"
"karena kubisa, walau kutak mau, berdiri tanpa kembaran hatiku"

Lelah karena Jengah



‎"Tuan, boleh aku pinjam pundakmu, sekedar menempatkan lelah sejenak, kenyataan kembali mematahkan semua, dan kesimpulannya aku tidak kuat"

TENTANG KALIMAT APA YANG TEPAT MENEMBUS JANTUNG PEDULIMU

Suasana pagi menyapa, sementara bunyi waktu pada jam dinding yang berputar hendak menyebar kabar, mahaluka tengah mengoar.
Sedang aku mencermati lantai ubin yang dingin mungkin oleh angin:berusaha mencari sama dan mencari beda:
Lantai ubin yang beku dan hati ini yang kaku dalam serupa di injak-injak. Menemukan beda:aku terinjak perasaanku yang sepi:lantai ubin dengan telapak-telapak yang menghentak, berlari, lalu sunyi.
Sementara itu, masih sempat pula aku berpikir bahasa apa yang tepat untuk mendeskripsikan kepada kamu yang membaca ini,
“Matahari yang berputar pada siang, bulan yang dilukis tak penuh pada malam, kamu pada alam sadarku”
Tentang kalimat apa yang tepat untuk menarasikan kepada kamu yang membaca ini,
“Apa yang dapat dihasilkan oleh sebuah hubungan yang membosankan, ketika sebuah permasalahan yang sama masih saja menjadi dilema, bagiku barangkali tidak bagi kamu?”
Tentang kapan waktu yang cukup untuk mengatakan ulang kalimat yang kamu baca ini,
 “Bagaimana aku harus menuntut lebih sementara aku tahu kamu hanya mempunyai sedikit perhatian terhadapku disebabkan sesuatu yang kamu sebut KESIBUKAN?”
Tentang cara yang tepat mengabarkan kepada kamu yang membaca ini,
 “Dan entah kamu tahu kalau-kalau aku merasakan ini jika tidak aku deskripsikan di sini?”
Semua masih sama. Dan hatiku teramat jenuh merangkak di antara semua rutinitas yang jelas membuatku malas.

RUMAH,
KAMIS, 9 SEPTEMBER 2010
09.09 WIB
mencari sama dan mencari beda lantai ubin dan aku


ini sesuatu yang aku sebut "kekal"

Dan yang pasti, bila esok tidak kembali kepadaku, ingatlah aku tidak pernah berniat meninggalkan KAMU dengan cara apapun, DENGAN CARA APAPUN kecuali TAKDIRKU.
(RK dalam Sesaat ketika senja mu memantulkan jingga)

-sabtu biru-

Ini ketika bening embun mengilau sebab dikecup pagi yang basah telah,
pada kelopak surya mengedip, lalu menebar benih jingga
pada cinta yang ambigu oleh rindu yang prematur.

*selamat pagi "seseorang" ! *
...:)

Tentang sebuah kunci

Perlu menyimpan "kunci" ruangan ini dengan hati. Kali ini, hanya "Dia" yang boleh masuk dalam ruangan ini. Sebab, kemarin tanpa ide yg brilian saya berani menyerahkan kunci itu kepada sembarang Guna. Dan jiwa Guna itu pun dengan sukses memporakporandakan isi ruangan saya. Lukisan, toples kaca, bola kristal , sampai keset kaki saya turut tak berbentuk. Sekarang saya butuh seorang Dia untuk merapikannya kembali.

Pekik Sunyi



Dengarlah !

Ada suara di sini. Di luka ini. Tidak percaya. Coba dekatkan telingamu pada luka saya.
Dia protes. Dia marah. Dia teriak. Nah, betul kan?

Ada gaduh yang melesap ke dalam pekik sunyi. Wow, saya hampir tuli olehnya. Ada sinar terang menusuk indera lihat. Hampir saja saya buta. Ada bingar memainkan nada tanpa petikan gitar. Uh, sumbang. Ada nyayian kelelawar menggema disambut tawa burung hantu di ujung jalan. Amat kelam. Lampu taman yang meremang menambah gersang. Lenggang sekali. Bulan memunculkan sepotong saja (ke mana sepotongnya?) Hambar. Malam segera pulang, habis pada masanya.

Semua senyawa sepakat mempermainkan saya. Apalagi kamu. Cekikikan di lorong luka. Merongrong belulang. Dasar jalang (batin saya). Tak pernah biarkan saya tenang. Sebab iramanya telah ditelan oleh tiap gulana. Serakah.
Ah, saya heran. Senang sekali saya dilukai.

Berdarah. Dalam darah itu mengalirlah butir pikiran yang tertulis dalam patahan-patahan kata. Seutas kalimat pun terkulai tanpa daya. Meski sunyi ikut andil menelan keberadaan “normal” sebab sepi menggaungkan kegilaan. Saya turut jadi gila. Kalanya saya butuh jadi gila. Sepertinya Tuhan menyukai orang gila, sebab telah penuh sudah dunia ini oleh orang gila.

Sepi merayap, menggelitik, menusuk, sesekali memekik. Masih. Meskipun.

Ah, saya heran. Senang sekali saya dilukai.

Sekali. Dua kali. Tiga kali. Kali-kali. Berkali-kali. Bebal. Sepertinya kamu benar-benar memanfaatkan kedunguan saya. Bagaimana tidak, tiap tanya saya jawab. Tiap bicara saya dengar. Tiap suruh saya patuh. Sepertinya saya berani mati ketimbang berani hidup –dihadapanmu– siapa yang menyiasati saya untuk mencumbui kuncup malam dengan rindu padamu?

Meski saya –pernah berpikir– untuk berbicara denganmu seperti memasukkan garam ke dalam sayur, secukupnya, seperlunya. Namun, tanpa hasil dan sia-sia. Sebab kamu memilih tidak memasukan garam sama sekali ke dalam kuah sayur, menikmati rasa tawar saja, ketimbang membujuk atau minta maaf. Dasar egois (batin saya) sebab sesuatu menahan saya untuk memuntahkannya ke dalam pendengaranmu. Saya aki kamu “segalanya” bagi saya. Sebab sebagian dari diri saya telah menyusup masuk ke dalam jiwamu. Sebagian lagi seperti layang. Melayang dengan kendalinya kamu bukan angin.

Ah, saya heran. Senang sekali saya dilukai. Saya benar-benar mengiinginkan kamu.
Mulai lagi senyap mengunyah resah. Aku bungkam dalam ceruk malam.


20.51 WIB
Penghujung 2010
"Melompong"

Riani Kasih

Tentang sebuah “ruangan”

Riani Kasih                                                                                                                                                              

1
Di sini senyap.
Sementara saya tahu di luar telah bising oleh derap rintik menyentuh atap rumah. Lalu menyatu dalam genangan. Lalu terus mengiang.
Pun di sini masih kedap. Bisingnya ditangkap dinding-dinding. Angin pelan menari, mendatangkan wangi tanah yang basah telah. Ingatan saya pun turut basah.

2
Sementara pikiran saya perlahan menyulam remah-remah kenangan yang terjebak dalam kotak ingatan. Mengurai satu-satu serupa rintik yang labuh pelan dan menyatu perlahan. Semua selalu tentang kita.  Sebagian dari diri kita cenderung membuka diri dan menerima lagi hubungan sebagai “sahabat” daripada “kekasih” yang saya kira tidak akan mewakili  hubungan kita sekarang. Sementara sebagian diri saya menolak turut.

Lalu, ada bagian lain lagi dari diri kita dengan cerdas membangun “tameng” sebagai pertahanan tanpa sepengetahuan. Bagian dari diri kita itu adalah bagian saya. Saya pikir ini adalah ide yang cemerlang, sebab saya tidak mau terlibat dalam kubangan kelam kisah lama. Di sini, di dalam tubuh ini telah saya bentuk "tameng" sekokoh baja, sekuat batu, setegar karang. Jadi, saya kira jika kamu bermaksud menghempasnya lagi, pikirkan saja dulu dengan baik-baik. Sebab kamu perlu menjadi "air” terlebih dulu.

Ada hasil mengurai remah kenangang itu, saya menemukan di mana kita pernah memasang pintu pada “hati”. Kita menyebutnya hati itu “ruangan”, Selayaknya orang memasang pintu di sebuah ruangan, maka pula kita membuat kunci untuk keluar lalu masuk. Ada dua kunci. Satu untuk saya dan satu untuk kamu. Kamu bebas masuk “ruangan itu” dan saya pun. Kita sepakat dengan itu. Ini adalah adil. Hanya saya dan kamu. Kita.

Namun entah, dengan pikiran sederhana, gampang saja kamu menyerahkan kunci “ruangan” itu kepada“seseorang”. Lalu seseorang itu yang bekerja sama denganmu, leluasa memporakporandakan isi ruangan kita. File-file suka, tumpukan kertas kebahagian, tinta kesetian, bola kaca, dan alas kaki, semuanya sudah tidak pada temapatnya. Lalu, pada saat itu juga kalian dengan sukses memberi “jeda” pada hidup saya. Saya benar-benar sukse “tersakiti”

Saya pernah menemukan saat di mana sangat sulit untuk percaya. Bahkan dengan diri saya sendiri. Saat di mana saya bermaksud untuk “mengakhiri” dan justru bagi saya itu adalah saat di mana semua “berawal”. Hati saya langsung bergumam “Sakit yang panjang baru saja “memulai”. Saat itu adalah sekarang. Meskipun kita –kamu dan saya– sudah memastikan alasan mengapa saya –karena kamu, saya tempatkan pada posisi harus turut– kala itu memilih untuk mengakhiri. Memilih untuk masing-masing. Kamu menjalani hidupmu. Saya pun turut demikian. Mengenai “ruangan itu” pada akhirnya kita memilih untuk mengosongkannya. Kamu masih menimang kepada siapa selanjutnya menyerahkan kunci “ruangan” itu (barangkali), sedangkan saya memilih untuk menelan kunci itu. Saya sudah benar dalam memikirkan ini, sebab saya pastikan tidak ada yang pernah masuk ke dalam “ruangan” itu (lagi).

3
Perlu kamu sadari, Saya –menelan kunci “ruangan” itu– membiarkan “ruangan” itu kosong selamanya tentu bukanlah perkara yang sederhana. Sudah dipastikan rumit dan sakit dalam hitungan waktu yang panjang. Mungkin kamu berpikir saya kebal atau saya bengal. Demi Tuhan, saya benar-benar seorang yang lemah. Saya hanya memaksakan diri saya untuk kuat. Saya hanya berusaha berpikir saya bisa maka saya bisa –merangkak keluar dari kelamnya kisah silam– kita.
Saya benar-benar ingin memblokir kamu dari kehidupan saya. Sehingga tidak akan pernah satu kali pun kamu muncul di beranda kehidupan saya kelak. Sekadar untuk bertandang dan membuktikan kalau saya adalah lebih bodoh dari keledai –meminta kunci ruangan saya– dan membiarkan kamu masuk lagi dalam kehidupan saya. KAMU SALAH. Inilah cara saya menyelesaikan masalah saya denganmu. Kamu pun telah sepenuhnya memahami saya, sebab telah berapa milyar milisekon yang pernah kita lewati dulunya hanya untuk “main-main”. Pada akhirnya sepenuhnya saya menyadari sudah cukup waktu saya untuk main-main denganmu. Saya benar dengan “perasaan” ini, kamu salah dengan “perasaan” ini. Lalu kupastikan kelak kamu jatuh cinta pada orang yang tepat.


16.37
28 Desember 2010
Kosong