Di sini. Di tanah ini. Tiga hari jika kamu menghitung juga perhatikan. Aneh. Orang-orang berkepentingan sibuk membeli topeng. Topeng yang beragam rupanya. Anehnya lagi. Setelah dipasang, jika kamu memerhatikannya sekilas topeng-topeng itu amat menyerupai pemakainya meski jika kamu perhatikan lekat-lekat karakternya mendadak tak serupa.
Paling laris, topeng yang menggurat senyum. Sepenilaianku topeng itu menggurat senyuman basa-basi. Mereka membelinya di sepanjang jalanan ini, lho. Hanya di sepanjang jalan ini.
Masih orang yang sama pula -orang yang memakai topeng- sibuk merundingkan sesuatu yang entah. Lalu ada juga mereka yang menambal sulam jalan, mengecat gapura. Ada pula mereka yang sibuk mendekor ruangan, merazia lapak-lapak yang [telah menahun berada] sepanjang jalan ini. Perlu kuterangkan, hanya di sepanjang jalan ini. Tidak untuk jalanan setapak lainnya. Ringkikkan pasukan keamanan terdengar hilir mudik di jalanan. Ada yang menunggang kuda, ada yang mengendarai kereta. Derapnya mengisyratkan, penghalang jalan segera memilih menepi.
Jika kamu lewati, pendopo kebesaran. Rupanya, bendera kebesaran pun telah membelit pagarnya. Megah dan indah.
Lalu, ada Seseorang yang berani berbisik padaku [bukan salah satu dari mereka]. Rupanya Ia pun turut memerhatikan. Ia bertanya gerangan apa ini? Dan, kujawab dengan berani dan berbisik pula, "Ada festival topeng yang dihadiri kelurga dari Istana." Ia yang bertanya, terlihat manggut-manggut.
/RK/ @ Kantin Q-Ta, FKIP Untan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar