Lengkung sabit di langit menyunggingkan senyum. Suara jangkrik mengerik. Dari kejauhan suara burung hutan sesekali terdengar samar. Cahaya dari pijar lampu minyak rumah penduduk setempat membentuk titik. Di atas gertak dengan tiang belian menancap kokoh ke dasar danau Landu dan Dara berdiri menghadap danau. Keduanya membiarkan keheningan menyelimuti sejenak.
"Kamu, ingin menari denganku?" Landu berbisik memecahkan keheningan. Ia menatap permukaan danau yang beriak pelan.
"Menari? Berdansa, maksudnya?" Dara bingung. Ia mengalihkan pandangannya ke Landu meminta jawaban. Landu mash menatap ke arah danau.
"Iya, sejenis berdansa." Landu menjawab. Kali ini ia memalingkan wajahnya ke arah Dara. Wangi cokelat menyapu penciumannya. Landu kenal wangi ini. Aroma parfum Dara.
"Sejenis berdansa. Terdengar aneh. Tapi kita tidak punya musiknya." Dara membenarkan letak poninya yang nyaris berantakan tersentuh angin.
"Tidak perlu musik. Bagiku kamu lebih dari sekadar musik." Landu meraih tangan Dara dan meletakkannya di dadanya. Lalu ia berkata, "Dan lagunya ada di sini. Coba kamu dengar." Landu mengubah posisi berdirinya dan menghadap Dara.
Dara diam sejenak. Ia ragu, harus memulainya. Menyadari Dara kikuk, Landu menarik kepala Dara pelan. Dara tersentak. Lalu ia menempelkan telinganya ke dada Landu. Wangi tubuh Landu senada debaran di dalam sana. Lembut dan mendamaikan.
Rasanya dunia stagnan dalam hitungan sesaat. Jika Dara boleh memilih mengabadikan momen terindah, maka tanpa pertimbangan apapun akan ia abadikan momen ini.
"Lagu ini adalah lagu terindah yang pernah aku dengar sepanjang hidupku." Dara berbisik. Landu mendengar jelas. Ia tersenyum.
Landu meraih tangan kiri Dara, menggengamnya lalu merentangkannya. Landu menempatkan posisi kakinya di samping kaki Dara. Kepala Dara masih menempel di dada Landu. Landu merasakan wangi rambut Dara. Lembut. Landu menempatkan tangan kirinya di pundak Dara. Lalu tangan kanannya memeluk pinggang Dara. Ia menggoyangkan pelan badannya ke kiri lalu ke kanan. Dara memilih menurut. Ia benar-benar larut dalam pesona Landu. Ia sadar ini telah berlangsung dari pertama ia bertemu Landu beberapa minggu yang lalu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar