Dengarlah !
Ada suara di sini. Di luka ini. Tidak percaya. Coba dekatkan telingamu pada luka saya.
Dia protes. Dia marah. Dia teriak. Nah, betul kan?
Ada gaduh yang melesap ke dalam pekik sunyi. Wow, saya hampir tuli olehnya. Ada sinar terang menusuk indera lihat. Hampir saja saya buta. Ada bingar memainkan nada tanpa petikan gitar. Uh, sumbang. Ada nyayian kelelawar menggema disambut tawa burung hantu di ujung jalan. Amat kelam. Lampu taman yang meremang menambah gersang. Lenggang sekali. Bulan memunculkan sepotong saja (ke mana sepotongnya?) Hambar. Malam segera pulang, habis pada masanya.
Semua senyawa sepakat mempermainkan saya. Apalagi kamu. Cekikikan di lorong luka. Merongrong belulang. Dasar jalang (batin saya). Tak pernah biarkan saya tenang. Sebab iramanya telah ditelan oleh tiap gulana. Serakah.
Ah, saya heran. Senang sekali saya dilukai.
Berdarah. Dalam darah itu mengalirlah butir pikiran yang tertulis dalam patahan-patahan kata. Seutas kalimat pun terkulai tanpa daya. Meski sunyi ikut andil menelan keberadaan “normal” sebab sepi menggaungkan kegilaan. Saya turut jadi gila. Kalanya saya butuh jadi gila. Sepertinya Tuhan menyukai orang gila, sebab telah penuh sudah dunia ini oleh orang gila.
Sepi merayap, menggelitik, menusuk, sesekali memekik. Masih. Meskipun.
Ah, saya heran. Senang sekali saya dilukai.
Sekali. Dua kali. Tiga kali. Kali-kali. Berkali-kali. Bebal. Sepertinya kamu benar-benar memanfaatkan kedunguan saya. Bagaimana tidak, tiap tanya saya jawab. Tiap bicara saya dengar. Tiap suruh saya patuh. Sepertinya saya berani mati ketimbang berani hidup –dihadapanmu– siapa yang menyiasati saya untuk mencumbui kuncup malam dengan rindu padamu?
Meski saya –pernah berpikir– untuk berbicara denganmu seperti memasukkan garam ke dalam sayur, secukupnya, seperlunya. Namun, tanpa hasil dan sia-sia. Sebab kamu memilih tidak memasukan garam sama sekali ke dalam kuah sayur, menikmati rasa tawar saja, ketimbang membujuk atau minta maaf. Dasar egois (batin saya) sebab sesuatu menahan saya untuk memuntahkannya ke dalam pendengaranmu. Saya aki kamu “segalanya” bagi saya. Sebab sebagian dari diri saya telah menyusup masuk ke dalam jiwamu. Sebagian lagi seperti layang. Melayang dengan kendalinya kamu bukan angin.
Ah, saya heran. Senang sekali saya dilukai. Saya benar-benar mengiinginkan kamu.
Mulai lagi senyap mengunyah resah. Aku bungkam dalam ceruk malam.
20.51 WIB
Penghujung 2010
"Melompong"
Riani Kasih

Tidak ada komentar:
Posting Komentar